Salamet, Doktor Filsafat UGM yang Memilih Bertani Organik

21
0
Share:

Labumi.id, Meski menyandang gelar doktor filsafat dari UGM Yogyakarta, Salamet, warga desa Paberasan, Sumenep, Madura, Jawa Timur tak menghalangi usahanya untuk berjibaku dengan pertanian organik. 

Lelaki berkacamata minus ini terusik untuk mengembalikan pola bertani para leluhurnya yang tak menggunakan pupuk kimia. Dia ingin buktikan bahwa leluhurnya tidaklah keliru. Pertanian organik menyehatkan bagi tanah, lingkungan, dan manusianya. Petani sangat bisa tak tergantung kepada pupuk pabrikan. Sebab itu dia menyatakan perang dengan pestisida, dan aneka pupuk kimiawi.

“Saya buktikan kepada para petani sekitar saya dengan cara bertani sendiri secara langsung dengan mengucapkan selamat tinggal pupuk pabrikan,”paparnya pada labumi.id, baru-baru ini. 

Dalam beberapa tahun, hasil dari pertanian organik yang digeluti hasilnya sangatlah baik dan menyehatkan. Beras organik lebih pulen, tidak cepat basi bahkan jauh lebih baik dibandingkan beras hasil tani kimiawi.  

“Saya merasakan itu terbukti karena hasil tani organik itu juga untuk dikonsumsi pribadi keluarga saya,”jelasnya.

Salamet bercerita awal ketika memutuskan bertani organik dan turun sendiri mengelola sawah banyak tetangga sekitarnya yang menganggap usahanya bakal sia-sia. Karena yang dilakukannya berbeda dari pilihan kebanyakan petani yang tergantung pada pupuk kimiawi. 

Anggapan itu dia rasakan sebagai hal yang wajar, karena para petani dilingkungannya yang tidak paham tentang organisme tanah. Menurutnya wajar, jika ada penilaian dari mereka jika wilayah pertanian berbeda dari studi doktoralnya, berbeda pula dari kegiatan belajar mengajar di depan mahasiswa.

Salamet beryakinan penilaian kepada dirinya itu akan hilang seiring berlalunya waktu. Apalagi kebanyakan dari mereka tak mengerti bila makna hidup bukan sekedar berada di ujung dasi dan sepatu. 

“Lama kelamaan mereka akan mengerti juga setelah setiap hari berkumpul. Kadang ngopi bareng dan berdiskusi santai di pematang sawah,”tuturnya.

Baca Juga:  Pintu Atletico Madrid Tetap Terbuka Untuk Antoine Griezmann

Salamet yang juga seorang dosen di salah satu perguruan tinggi pendidikan swasta ini menganggap profesi petani sebagai pekerjaan mulia. Tak kalah mulianya daripada dosen. Petani tak hanya merawat alam, tapi turut serta menjaga ketahanan pangan dan keberlangsungan hidup. 

“Jika tak ada pertanian, akan sulit untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat, apalagi pangan bangsa secara nasional,”paparnya. 

Menurut Salamet, jadi petani, tak mengurangi kehormatan dan wibawanya sebagai seorang pendidik. Baginya, profesi hanyalah status sosial belaka yang terpenting adalah berupaya tetap bermanfaat bagi masyarakat dalam kondisi dan situasi apapun.

“Orang menilai diri kita bagaimanapun, jangan pedulikan, anggap saja mereka belum mengerti tentang hidup,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara menjadi dosen dia akui sebagai satu pekerjaan yang juga mulia. Mendidik, mencerdaskan kehidupan anak bangsa, sebagai agen of change. Sehingga penting dilakukan sebagai satu langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. 

Sedangkan bertani, kata dia, secara langsung merupakan aktivitas yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi kehidupan masyarakat. Dia mengaku sebagai anak petani, besar dan dibesarkan oleh seorang petani. Proses sekolah yang dilalui sampai jadi dosen juga berkat dari orang tua yang profesinya bertani. 

“Kan sebenarnya bertani itu bukan pekerjaan naif, melainkan pekerjaan mulia,” imbuhnya 

Pria yang juga aktif menulis karya sastra ini menyebutkan banyak tantangan yang sering dihadapi dalam bertani, khususnya tani organik. Para petani sulit percaya, karena sudah terlalu lama dimanja oleh pupuk pabrikan dan kimiawi, sehingga sulit diajak untuk beralih ke pola tani organik.

Selain itu masalah perairan lahan pertanian yang sulit diatur. Kadang banyak melebihi kebutuhan saat musih penghujan datang. Kadang air sulit didapatkan sehingga tanah retak jadi bongkahan saat musim kemarau. Pertanian di Sumenep pada umumnya belum bisa menghindar dari pupuk pabrikan kimia, sehingga tanah yang mau diolah ke tani organik diperlukan pengolahan ulang untuk menetralkan lahan. 

Baca Juga:  Timnas Indonesia Kalah Telak, Dilumat 0-4 oleh Vietnam

Hasil tani organik juga sulit dipasarkan. Karena harus menyesuaikan dengan harga hasil tani kimiawi. Penyebabnya karena masyarakat belum paham manfaat hasil tani organik, terutama bagi kesehatan dan manfaat bertani bagi organisme tanah maupun kesehatan lingkungan. 

Ditambah lagi faktor minimnya lahan pertanian di Sumenep yang mulai berkurang dikarenakan alih fungsi yang cukup pesat dan bisnis properti yang gila-gilaan. 

“Ini salah satu alasan saya terus menggemakan pentingnya bertani, karena bertani menjaga ketahanan pangan bangsa,”tandasnya

Ia tak memungkiri bila generasi petani mulai berkurang. Penyebabnya dikarenakan hasil tani kurang menggiurkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka lebih memilih kerja pabrik atau kantoran. Padahal, bertani jika diseriusin akan memberikan hasil yang lebih baik daripada kerja kantoran.

“Masyakarat kita mulai mengambil hal-hal yang instan, tidak mau jalan proses yang dirasa berat, misal: kebutuhan beras, langsung beli aja dari pada susah-susah bertani. Akhirnya peluang bertani dan pertanian di Sumenep, menurut saya, akan memudar dan tidak berdaya dengan banyaknya lahan yang dialih fungsikan itu,” ungkapnya dengan serius.

Jika pemerintah baik pusat maupun daerah tidak peduli atau kurang dalam memberikan perhatian kepada pertanian, maka pertanian tidak akan prospek, dan pangan akan melemah. Pasti akan kalah jauh dari negara-negara tetangga seperti Thailand dan Singapore yang terus menggalakkan pentingnya pertanian. 

“Daya saing hasil pertanian kita kalah jauh ke hasil pertanian di negara lain, sehingga pasar pertanian kita melemah dan perlahan membunuh semangat untuk terus bertani. Sedangkan pemerintah terus melakukan impor ekspor yang tidak imbang di bidang pertanian,” imbuhnya.

Ia menilai melemahnya daya jual dengan harga yang rendah dari hasil pertanian, akan membunuh semangat petani dalam dunia pertanian. Hal itu, sebenarnya juga menjadi sebab terputusnya regenarasi petani. Sehingga petani seringkali berkata ke anak cucunya “agar tidak menderita seperti dirinya sebagai petani”, seakan kerja di kantoran lebih baik dan mulia daripada menjadi petani.

Baca Juga:  Menang dari Austria, Belanda Menyusul Italia ke 16 Besar

“Kesadaran pentingnya bertani inilah yang perlu dikembalikan ke diri bangsa Indonesia, tanpa ada petani kita akan tak berdaya di bidang pangan,” tuturnya sembari menutup percakapannya. (Khairul Amin/Red)

Share: