PILBUP SUMENEP:  PERTARUNGAN TEKNOKRATIK-ULAMA PEJUANG’ VS ‘PENGUSAHA-AKTIVIS MUSLIMAT

134
0
Share:

(Pertaruhan Bagi Rakyat Sumenep Menjelang Hari Pencoblosan)

Lusa besok atau hari Rabu, warga Sumenep akan menentukan pemimpinnya yang baru. Mereka akan masuk ke bilik suara untuk mencoblos siapa yang paling layak memimpin Sumenep di antara dua pasangan calon: Fatah Jassin-Mas Kiyai (Ali Fikri) dengan nomor urut 2, atau Achmad Fauzi-Dewi Khilafah (Nyai Eva) dengan nomor urut 1.

Melihat profil dan rekam jejak selama ini dari kedua pasangan calon, nomor urut 2 mewakili kepemimpinan yang oleh para ahli disebut TEKNOKRATIK-ULAMA PEJUANG sementara nomor urut 1 mewakili kepemimpinan ‘PENGUSAHA-AKTIVIS (MUSLIMAT)’.

Fatah Jassin, Cabup nomor urut 2, mewakili kepemimpinan Teknokratik-Administratur. Kempotensinya dalam bidang keilmuan dengan gelar Doktor dan Insinyur yang disandang serta keahliannya dalam mengendalikan sebuah organisasi pemerintahan (birokrasi) layaknya memimpin sebuah perusahaan sangat pas dengan kategori ini. Pada umumnya, kepemimpinan model ini sangat menekankan profesionalitas, memahami tugas dan fungsinya serta menguasai secara baik apa yang harus dilakukan untuk memenuhi tugas yang diamanahkan pada jabatannya.

Ciri utama dari model kepemimpinan ini adalah efektivitas dan efisiensi, teratur serta sistematik dalam merumuskan dan menjalankan suatu kebijakan. Kepemimpinan model ini juga predictable, memiliki kemampuan untuk menganalisis dan membaca persoalan yang akan muncul di masan depan. Jabatannya yang berpindah-pindah dalam birokrasi elite Pemprov Jawa Timur memperlihatkan bahwa Fatah Jassin sangat menguasai detail tata kelola birokrasi pemerintahan.

‘Kecepatan dan ketepatan dalam pelayanan publik’ yang menjadi top of mind dalam tiga kali debat adalah solusi yang pas bagi birokrasi Sumenep yang selama ini terkesan ‘amburadul.’

Pasangannya dengan Mas Kiyai (Ali Fikri) ibarat botol dengan anggur sekaligus pembuka botolnya; ‘efektitivitas dan efisiensi’ yang berpadu dengan ‘ketulusan dan daya dobrak.’ Dibesarkan dalam keluarga ulama, membimbing ummat keluar dari kebodohan dan keterbelakangan membuat Mas Kiyai sangat tepat mewakili kepemimpinan Ullama-Pejuang.

Baca Juga:  Kyai, Mengaji Al-Quran dan Hutang

Kepemimpinan dengan karakter ini mampu menggalang hubungan masyarakat, berkomunikasi dengan masyarakat, bisa menampung dan menerjemahkan aspirasi masyarakat. Ia juga tumbuh dari akar, dari bawah, dan berkecimpung bersama ummat dengan segala keluh kesahnya. Apabila bertindak ia tidak hanya dipercaya, tetapi juga mempertanggungjawabkannya kepada ummat. Politik baginya bukan soal jabatan dan kalah menang, tetapi panggilan moral yang harus dipertanggungjawabkan tidak hanya pada ummat (di dunia) tetapi juga pada Tuhan (di akhirat).

Kepemimpinan Ulama Pejuang mampu menyintesiskan beberapa karakter kepemimpinan guna menghadapi dan menjawab problem keummatan dan kebangsaan yang berubah secara dinamis. Ia mampu memadukan banyak karakter kepemimpinan: sifat ketulusan, kecintaan, dan kesabaran dari tipe warisan para Nabi, semangat perjuangan dan pengorbanan membela martabat bangsa dari tipe intelektual-pejuang dan kemampuan teknokratik dalam mengelola pemerintahan.

Adapun mandat dan legalitas dari Parpol dan elite pendukung hanyalah bersifat ‘sarana’ dan ‘persahabatan’ untuk memajukan ummat; ia tak menjadikan Parpol dan elite pendukungya sebagai ”majikan” dari karier politiknya.

Karakter kepemimpinan yang seperti ini bisa juga disebut ‘Profetik-Teknokratik.’ Profetik karena kedekatan, kecintaan, dan komitmennya dalam membela dan melayani ummat; teknokratik karena kemampuan dan penguasaannya secara teknis-empiris dalam memecahkan problem bangsa dan masyarakat dengan instrumen ilmu pengetahuan modern. Perpaduan pendidikannya di pesantren tradisional dan jenjang pendidikan modern hingga menggondol gelar Magister menunjukkan betapa Kiyai Ali Fikri memiliki semua karakter kepemimpinan ini.

‘Aladhin ummat’ yang menjadi top of mind dari Mas Kiyai merupakan solusi jitu bagi warga Sumenep untuk keluar tak hanya dari ‘kebodohan dan keterbelakangan’ tetapi juga dari problem struktural ekonomi dan sosial. Mas Kiyai merupakan kepemimpinan yang tepat pada saat yang tepat.

Baca Juga:  Media Sosial, Netizen dan Keadaban Bangsa

Achmad Fauzi, Cabup nomor 1, mewakili kepemimpinan Pengusaha. Jabatannya di sejumlah perusahaan ternama setidaknya membuktikan kategori ini. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan PT. WUS di Jakarta, jabatan paling mentereng dibanding jabatan lainya. Hampir mirip dengan tipe kepemimpinan teknokratik, kepemimpinan Pengusaha pada umumnya menekankan pada profesionalitas dan efisiensi. Namun tak hanya itu, istilah ‘laba’ atau ‘untung’ juga sangat melekat dengan profesi ini karena bagaimanapun pengusaha adalah profesi kalkulasi: ‘untung-rugi.’

Usianya yang masih relatif muda dan termuda dibandingkan calon yang lain, membuat Fauzi sempat menjadi harapan baru bagi warga Sumenep. Karena bagaimanapun, usia muda identik dengan ‘agen perubahan’. Akan tetapi performanya yang tak benderang sebagai incumbent (Wakil Bupati Sumenep 2015-2020) serta beberapa kasus yang menyeret namanya, ketika menjabat sebagai Kepala Kantor Perkawilan PT. WUS di Jakarta, membuat harapan rakyat itu pupus seketika.

Kalaupun top of mind dari Fauzi adalah ‘bismillah melayani’, sepertinya hal tersebut tak bakal menghapus memori masyarakat tentang performanya yang tak benderang serta dugaan kasus penyelewengan kewenangan saat jadi Kepala PT WUS.

Pada umumnya, bagi tipe kepemipinan pengusaha, suara rakyat adalah sekedar angka-angka yang dapat dikalkulasi.

Pasangannya Dewi Khilafah (Nyai Eva) ibarat botol dengan pemecah botolnya; kemapanan berpadu dengan aktivisme-pemberdayaan. Latar belakanganya yang malang melintang dalam pemberdayaan perempuan membuatnya menggondol banyak penghargaan. Baginya, perempuan harus memiliki ruang dan peran khusus. Karenanya, perempuan tentu tak bisa disamaratakan dengan laki-laki. Tipe kepemimpinan dengan karakter yang seperti ini pada umumnya mampu menggerakkan partisipasi dan solidaritas kolektif perempuan sebagaimana terlihat dalam peran-perannya selama ini.

‘Permberdayaan perempuan’ adalah top of mind dari Nyai Eva. Ia adalah tipe pemimpin yang baik utamanya bagi kaum hawa. Akan tetapi, pemimpin yang baik ketika hadir pada musim yang ‘salah’ dapat menjadi pemimpin yang tidak tepat. Mungkin itulah gambaran umum profilnya sementara ini.

Baca Juga:  Remaja dan Ladang Masa Depan

Kedua pasangan dengan karakter kepemimpinan seperti telah dijabarkan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada satu karakter kepemimpinan yang cocok untuk segala zaman. Karena kepemipinan, sebagaimana dikatakan para ahli, adalah suatu peran yang dinamis yang berbeda-beda dalam waktak, lingkup dan kepentingannya, tergantung pada dinamika masyarakat. Akan tetapi, gejala yang mengemuka akhir-akhir ini, banyak pemimpin yang memiliki semangat membela rakyat, tetapi miskin kemampuan teknokratik. Sebaliknya, banyak teknokrat merasa hebat dalam bidangnya, tetapi tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap problem dan karakter ummatnya serta kurang memiliki komitmen membela kepentingan rakyat.

Yang patut disayangkan dengan kondisi kepemimpinan kita hari-hari ini adalah tampilnya orang-orang yang berambisi menjadi Penguasa dengan memanfaatkan sisi lemah demokrasi; mereka meraih suara rakyat dengan cara membeli dan membodohi rakyat, berkalkulasi secara untung rugi.

Dalam masa krisis seperti yang kita alami hari-hari kini, yang kita butuhkan adalah pemimpin yang mampu memadukan antara kemampuan tata kelola (good governing) dan kemampuan menampung, menerjemahkan dan mejawab aspirasi ummat (solidarity maker) secara cepat dan tepat. Mungkin yang demikian dapat terpenuhi dalam karakter kepemimpinan ‘Teknokratik-Ulama Pejuang.’

Di atas segalanya, pemimpin yang harus dipilih oleh rakyat dalam hitungan hari ke depan adalah mereka yang dapat menentukan prioritas pembangunan Sumenep secara konsisnten antara ‘janji kuasa dan kinerja kuasa:’ yaitu mensejahterakan desa dan meratakan pembangunan.

*Mohamad Nabil, warga Kalabe’en, Sumenep; Peneliti pada S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapure (2015-2018).

Share: