Pergi Ke Sumenep Berburu Gayam Hamidah

Penulis: Khairul AminEditor: Redaksi

Labumi.id, Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur memiliki ragam potensi produk olahan khas yang dapat dijadikan hampers atau oleh-oleh baik untuk kudapan serta camilan ringan.

Produk yang bertahun-tahun jadi home industri itu adalah keripik dan kerupuk. Keripik berbahan singkong paling banyak dikenal di masyarakat sama halnya kerupuk. Usaha keluarga ini tersebar di berbagai daerah seperti Manding, Saronggi, Ambunten, dan Gapura.

Selain itu ada juga di daerah Gedungan Batuan, jalan Tambak Saji persis sebelah utara Masjid namanya home industri keripik Hamidah. Andalan produknya yang sering diburu konsumen dari luar kota yaitu keripik Gayam.

Owner Keripik Hamidah, Nom Dirman menyampaikan bahwa usaha yang dirintisnya sudah dimulai awal tahun 2 ribuan silam. Semula dengan kemasan seadanya dan dipasarkan dengan cara dititipkan ke beberapa toko camilan.

“Cara penjualan saya mungkin unik, selain dititipkan juga dikasihkan gratis ke orang-orang. Saya menyebut cara berjualan ini dengan sebutan getuk tular pemasaran. Pernah dititipkan di Srikandi mini market. Setelah rame, baru didistribusikan ke toko camilan,” jelas Nom Dirman, 22/03/2024.

Dia meyakini dengan caranya itu mereka yang diberikan cuma-cuma selain ikut menilai rasanya juga ikut membantu mempromosikan.

Beberapa jenis keripik olahan yang diproduksi mulai dari talas, sokon, pisang, singkong dan gayam. Ia mengakui bila jumlah pemesanan yang terbanyak yaitu keripik gayam.

Rasa keripik gayam buatan home industri Hamidah sangat renyah dan gurih. Itulah yang membedakannya dari yang lain. Nom Dirman mengatakan rahasia agar keripik gayam enak berada saat proses penggorengan.

Proses sampai ke wajan, tidak bisa dilepaskan dari air. Mulai dari kupas, menguliti, perajangan harus direndam air, kecuali gayam itu siap di lepas ke wajan untuk digoreng.

“Memang ada di daerah tertentu yang setelah digoreng rasanya justru sepal. Penyebabnya bisa karena air,”tuturnya.

Nom Dirman mengatakan tingginya permintaan konsumen untuk keripik gayam tahun ini membuatnya kewalahan. Padahal persiapan lebaran dirinya sudah menyiapkan stok ratusan kwintal gayam.

“Pesanan paling banyak datang dari luar daerah. Seperti daerah Tapal Kuda, Surabaya, Sidoarjo hingga Jombang,”katanya.

Dia menceritakan jika pernah tawaran dari Singapura agar mengirim 1 kontainer setiap bulannya. Permintaan dia tolak, karena buah gayam musiman dan untuk ekspor dinilainya ribet.

“Pesanan usai jadi juara pertama olahan keripik di Jawa Timur. Sebelum ramai produksi keripik buah di Malang,”ungkapnya.

Menurut Nom Dirman gayam ini berbuah dalam setahun hanya dua kali. Sekitar bulan Januari dan Februari lalu pada bulan Juni dan Juli.

Bahan mentah ia dapatkan dari daerah Saronggi, Gedungan, juga banyak dari daerah Pajudan. Kemudian Tamedung, Talang, Ambunten dan Karang Campaka.

Dalam produksinya pihaknya mempekerjakan 12 hingga 20 orang pekerja yang rata-rata janda. Itu dilakukan semata-mata untuk membantu kebutuhan ekonomi mereka sehari-hari.

“Saya yakin dengan membantu para janda, pastinya mereka akan ikut mendoakan sehingga usaha kami lancar,”papar Nom Dirman.

Dalam beberapa tahun belakangan pihaknya juga sering menerima praktik kerja lapangan atau PKL mahasiswa dari berbagai kampus. Dirinya membantu mahasiswa yang datang belajar itu dari hulu hingga hilir.

“Perguruan tinggi terakhir yang mengirimkan mahasiswa untuk PKL di tempat kami dari Universitas Annuqoyah Guluk-guluk,’paparnya.

Nom Dirman berharap pemerintah membuka sarana pelatihan-pelatihan yang bisa diakses oleh masyarakat, khususnya generasi muda sehingga banyak pelaku usaha baru atau UMKM yang muncul dan cakap membaca peluang pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *