Sosial  

Lawan Mati Rasa, Serangan FajArt Ala Seniman di Hari Coblosan

Penulis: Badruddin HaikalEditor: Redaksi
Foto : Gambar ilustrasi

Labumi.id, Pasca reformasi, persoalan etika menjadi wacana yang banyak menginspirasi seniman untuk berkarya. Mulai dari isu demokrasi, keadilan sosial, HAM, hingga perubahan iklim kerap bermunculan melalui berbagai medium.

Diantara medium yang digunakan mulai dari kata-kata, kanvas, tulisan, instalasi, video, layar film, lirik lagu, hingga tubuh. “26 tahun setelah reformasi, isu-isu yang dulu diangkat pada masa Orde Baru seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme kembali bermunculan seiring dengan memburuknya indeks demokrasi dan persoalan etika,”kata sekumpulan seniman melalui siaran pers, Parung Bingung, Selasa, 13/03/2024

Seniman mengakui bahwa sebagai pelaku seni budaya saat ini merasa tersingkir dari medan sosial, politik, dan budaya masyarakat. Mereka sangat masygul kepada kondisi sosial yang terjadi hari-hari ini.

Seniman menganggap tatkala elit politik dan oligarkinya menunjukkan kelicikan yang membahayakan demokrasi dan nalar generasi masa depan, mereka menyuarakan untuk menolak terlena di dalam gelembung kenyamanan fana yang mematikan rasa.

“JANGAN MATI RASA, LAWAN! Kami seniman dan pegiat seni budaya mengajak kekuatan utama kita sebagai manusia,sebagai warga negara, untuk berpikir kritis, mendalam, dan jernih,”pasar dalam rilis tersebut.

Mereka mengaku menyaksikan dan merasakan apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini telah menggali lubang duka dan hamparan dusta.

Untuk itu mereka lalu mengajak agar kembali temukan kebenaran yang berkeadilan bagi semua. Dengan cara agar menyisir jalan untuk tidak tersesat dan menawarkan cara berpikir yang berbeda untuk merumuskan kembali manusia dengan perlakuan setara dalam lingkungan alamnya.

Diantara pengakuan tersebut, mereka menuliskan begini;

Kami seniman dan pegiat seni budaya berkeinginan untuk merefleksikan kembali perubahan pada perasaan yang telah dimatikan oleh guncangan-guncangan yang menggelisahkan.

Kita sebagai manusia pemilik kasih sayang, juga benci, kesedihan, kemurkaan, rasa malu,dan kebahagiaan. Namun, kematian perasaan adalah kesia-siaan bagi jiwa. Mata rasa pada keadilan, mata pada ketimpangan, mata pada kebenaran, mata pada kerusakan,menelikung kita bertahun, dan kita tidak bisa diam saja!

Kami seniman dan pegiat seni budaya memiliki kehendak untuk mendorong letupan jiwa, pada katup-katup demokrasi dan sendi kehidupan yang tersumbat dengan segala upaya inspiratif yang mampu mewarnai dinamika budaya kritis tanpa pembungkaman.

Untuk itu kami mengajak semua pelaku dan pegiat seni budaya ikut menyebarkan seruan ini demi membangkitkan RASA dari kematian etika dan estetika secara serempak melalui “Serangan Fajart” pada 14 Februari 2024 sejak dini hari hingga waktu pencoblosan.

Hormat kami,

Adek Ceeguk, Adhyra Irianto, Adinda Luthvianti, Agung Eko Sutrisno, Aliansyah Caniago, Ama Gaspar, Angga Cipta, Anggawedhaswhara, Arief Darmawan, Bagus Pandega, Broy Godoy, Cholil Mahmud, Dendi Madiya, Destian A. Kurniawan, Dwi Handono Ahmad, Eka Putra Nggalu, Fitra Rahardjo, Gita Hastarika, Hanafi, Huhum Hambilly, Ina Putri Bestari,Irwan Ahmett, Kamil Muhammad, Liling, M. Rico Wicaksono, Mikael Johani, Muhammad Ivanka, Mukmin Soge Ahmad, Nganga, Panji Gozali, Perempuan Timur Merah, Putri Wartawati, Raihan Robby, Rizal Jombie, Santo Klingon, Sihar Ramses Simatupang, Simon Karsimin, Syagini Ratna Wulan, Tatty Aprilyana, Tita Salina, Wanggi Hoediyatno, Zen Al Ansory, Zico Albaiquni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *