Kyai, Mengaji Al-Quran dan Hutang

124
0
Share:

Dalam sowan ke Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep, kemarin (01-02-2020) saya berkesempatan untuk ngalap barokah doa dari KH. A. Muqsith Idris. Beliau adik ipar sekaligus sepupu Almaghfurlahu KH. A. Basyir Abdullah Sajjad, dan paman dari KH. Prof. Dr. Abd A’la. Kyai Muqsith adalah guru mengaji Al-Quran saya yang pertama di Annuqayah.

Ceritanya, saya masuk Annuqayah daerah Latee pada pertengahan tahun 1999. Salah satu program wajib bagi santri Latee adalah mengaji Al-Quran dengan aturan tajwid yang benar. Pembimbingnya bertahap, mulai dari Ustadz muda yang mengajar para santri yang baru belajar baca Al-Quran, lalu meningkat kepada Ustadz yang lebih senior yang membimbing para santri yang sudah lancar baca Al-Quran. Waktu pelaksanaan ngaji Al-Quran kepada para ustadz ini setelah sholat Maghrib dan baru berhenti saat adzan Isya’ berkumandang.

Setelah dianggap lulus mengaji kepada Ustadz senior (biasanya berlangsung berbulan-bulan bahkan bisa lebih dari satu tahun) baru kemudian santri boleh mengaji Al-Quran kepada Kyai. Waktu pelaksanaan pengajian Al-Quran kepada Kyai setelah sholat Subuh.

Mengaji kepada Kyai ini ada tiga tahap: pertama, kepada KH. Syafi’ie Anshori. Beliau adalah menantu KH. A. Muqsith Idris dan alumnus PP. Annuqayah Latee. Saat mondok dulu, Kyai Syafi’ie adalah sahabat ayah saya. Setelah tahap ini bisa dilalui dengan baik, baru santri itu boleh lanjut ke tahap berikutnya. Ukuran kelulusannya murni menjadi hak prerogatif sang Kyai.

Tahap kedua adalah mengaji kepada KH. Muqsith Idris. Sama dengan metode yang dipakai sejak tahap paling awal, para santri membaca Al-Quran dengan aturan tajwid yang benar langsung di hadapan Kyai. Jika ada bagian yang salah baca, maka Kyai membetulkannya dengan memberi contoh cara membaca yang benar.

Setelah dinyatakan lulus oleh Kyai Muqsith, baru santri akan menapaki tahap pamungkas, yaitu mengaji kepada pengasuh Latee, KH. A. Basyir AS. Dalam masa tiga tahun saya mondok di Annuqayah, saya cukup beruntung bisa mengaji Al-Quran langsung pada dua tahap terakhir. Kok bisa begitu?

Singkat cerita, ketika ayah saya memasrahkan saya untuk memulai masa mondok di Annuqayah, beliau tidak hanya “acabis” kepada Almaghfurlahu Kyai Basyir, tapi juga kepada Kyai Muqsith dan KH. A. Basith AS. (adik Kyai Basyir).

Baca Juga:  PENDIDIKAN ALA RIMBA DI DUNIA PENDIDIKAN KITA

Kyai Basyir menyampaikan hal-hal umum tentang Kepesantrenan. Sedangkan Kyai Basith, sebagai kepala Madrasah Aliyah Keagamaan Annuqayah, banyak menyampaikan tentang berbagai hal terkait ke-MAK-an. Nah, Kyai Muqsith lain lagi, beliau langsung dawuh untuk mengajar saya ngaji Al-Quran.

Sebagai santri baru, saya langsung dag dig dug. Perasaan campur aduk, yang mendominasi adalah rasa takut. Apalagi ketika saya kemudian mengobrol dengan beberapa santri senior, mereka bercerita bahwa mengaji Al-Quran kepada Kyai itu sangat berat. Harus benar-benar disiplin dan konsentrasi penuh. Harus konsisten dan istiqomah dalam penerapan tajwid. Kalau tidak, kita akan menjadi sasaran kemarahan Kyai.

Perasaan di awal itu ternyata tak terbukti sama sekali saat saya menjalani proses mengaji al-Quran kepada Kyai Muqsith. Awalnya saya membayangkan beliau akan mendidik saya dengan keras, ternyata beliau sangat telaten dan lemah lembut. Saya mengaji kepada beliau dari Al-Fatihah sampai Juz 24. Itu saya lalui dalam waktu sekitar 1,5 tahun.

Masa mengaji ini berakhir karena, lagi-lagi, atas perintah Kyai. Saat ayah saya acabis (sowan) kepada Kyai Basyir, waktu itu saya sedang duduk di kelas 2 MAK, beliau langsung dawuh bahwa sudah saatnya saya mengaji Al-Quran kepada beliau. Saya pun pamit kepada Kyai Muqsith untuk pindah ngaji kepada Kyai Basyir.

Mengaji Al-Quran kepada Kyai Basyir memang merupakan tahap atau tingkatan paling berat atau paling sulit. Jika Kyai Muqsith akan memberi contoh cara membaca yang benar, ketika saya salah baca, Kyai Basyir tidak demikian. Beliau hanya akan berkata, “salah”, setiap kita melakukan kesalahan baca.

Kita dituntut untuk menyadari sendiri letak kesalahan bacaan kita, lalu memperbaikinya sesuai dengan kaidah tajwid. Jika kita ternyata salah terka atau lagi-lagi melakukan kesalahan bacaan, maka Kyai Basyir akan menghentikan lagi bacaan kita. Jika kesalahan ini terus berulang sampai tiga kali atau lebih, biasanya Kyai Basyir langsung akan memerintahkan kita untuk balik ke pondok dan belajar tajwid lagi kepada pengurus.

Baca Juga:  Dialog Perdamaian: Dari Sumenep Untuk Nusantara

Awalnya saya merasakan bahwa metode Kyai Basyir ini sangat berat, tapi setelah terbiasa, beban itu berubah menjadi sebuah keasyikan yang luar biasa. Saya selalu terpacu untuk “menampilkan” performa terbaik. Untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apapun di hadapan Kyai Basyir. Dan hal itu cukup berhasil selama 1,5 tahun terakhir masa tinggal saya di Annuqayah Latee.

Sayangnya, saat saya lulus dari MAK, ngaji Al-Quran saya kepada Kyai Basyir belum khatam. Saya hanya sampai di jus 23. Dan ini sungguh menjadi penyesalan saya, bahkan sampai sekarang. Saya merasa bahwa saya masih punya hutang yang belum terlunaskan.

Dan entah kebetulan atau tidak, kemarin saat sowan kepada Kyai Muqsith, beliau banyak berbicara soal hutang. “Satu hal yang sangat saya hindari adalah hutang. Saya sungguh tidak ingin punya hutang, kepada siapapun.” Beliau memulai nasehat yang langsung membuat saya jenggirat. “Saya meniru ini dari pelajaran hidup ayah saya, Kyai Idris, dan mertua saya, Kyai Sajjad. Beliau berdua pantang berhutang, bahkan pada saat yang sangat sulit sekalipun.”

Setelah diam sejenak, Kyai Muqsith melanjutkan cerita beliau, “Dulu masa penjajahan Belanda, keadaan sangat sulit di berbagai bidang kehidupan, termasuk ekonomi. Pernah suatu waktu di dapur Kyai Sajjad hanya ada sedikit nasi dan satu potong ikan asin mentah. Tak ada apa-apa lagi, bahkan minyak goreng untuk menggoreng ikan itu pun gak ada.

Karena itu, Kyai Sajjad memutuskan untuk tidak makan hari itu. Puasa Sunnah. Saat waktu makan tiba, ibu nyai menyajikan nasi dan ikan asin yang sudah digoreng. Kyai Sajjad lalu bertanya, dari mana Ibu Nyai dapat minyak goreng? Nyai Sajjad menjawab bahwa minyak goreng itu didapat dari berhutang. Kyai Sajjad terkejut, lalu menolak untuk makan. Beliau dawuh tidak mau dikalahkan oleh hutang. Kalau perlu, lebih baik menjual perhiasan dan baju yang dipakai, daripada harus berhutang.”

Baca Juga:  Revitalisasi BUM Des di Era Disrupsi

Saya sungguh merasa bahwa nasehat Kyai Muqsith ini sangat mengena kepada diri saya sendiri. Sebab, belakangan ini saya sudah mulai berfikir untuk mengambil uang kredit ke bank, untuk keperluan tertentu. Kok ya pas Kyai Muqsith memperingatkan saya soal hutang. Sampai detik ini saya masih terus berfikir keras soal beberapa kontradiksi yang saya rasakan sendiri terkait rencana berhutang itu. Agak berat juga ternyata. Saya lalu teringat bahwa salah satu doa yang paling sering dibaca oleh Almaghfurlahu Kyai Basyir setiap selesai sholat berjamaah adalah doa mohon perlindungan Allah dari lilitan hutang.

Doa itu diajarkan oleh Rasulullah Muhammad ﷺ kepada seorang sahabat Anshar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dalam kitab Sunan-nya, hadis nomor 1555. Diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa pada suatu hari, Rasulullah ﷺ masuk ke masjid.

Ternyata di sana sudah ada seorang laki-laki Anshar yang bernama Abu Umamah. Beliau kemudian menyapanya, “Hai Abu Umamah, ada apa aku melihatmu duduk di masjid di luar waktu shalat?” Abu Umamah menjawab, “Kebingungan dan utang-utangku yang membuatku (begini), ya Rasul.” Beliau kembali bertanya, “Apakah kamu mau aku ajarkan suatu bacaan yang jika kamu membacanya, Allah akan menghapuskan kebingunganmu dan memberi kemampuan melunasi utang?” Umamah menjawab, “Tentu, ya Rasul.” Beliau melanjutkan, “Jika memasuki waktu pagi dan sore hari, maka bacalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.”

Abu Umamah menuturkan, “Setelah aku mengamalkan doa itu, Allah benar-benar menghilangkan kebingunganku dan memberi kemampuan melunasi utang.”

Semoga Allah senantiasa memberi kesehatan dan umur panjang untuk guru-guruku di Annuqayah. Dan Al-Fatihah untuk para Masyayikh yang sudah wafat.

Prenduan, 02-02-2020

Share: