Desa  

60 Hektar Lahan Pertanian di Lenteng Terendam Banjir, DPRD Sumenep Desak DKPP Carikan Solusi

Penulis: khairul Amin Editor: Redaksi
Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep, Gunaifi Syarif Arrodhy

Labumi.id, Diperkirakan sebanyak 60 hektar lahan petani di Desa Sendiri, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur Terendam banjir.

Banjir melanda lahan pertanian warga setelah 2 hari belakangan curah hujan sangat tinggi. Akibatnya, bisa dipastikan para petani terancam gagal panen.

Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep, Gunaifi Syarif Arrodhy mendesak agar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep segera mendata semua lahan sawah yang terendam banjir.

“Saya berharap agar dinas terkait turun tangan melakukan pendataan terhadap lahan sawah yang terendam banjir. Jika kemudian ada petani yang gagal panen bisa juga diusulkan bibit pengganti agar mereka bisa menanam kembali,” ujarnya, Jumat, 15/3/2024.

Di sisi lain, ia meminta agar dinas terkait segera mencarikan solusi untuk mengantisipasi agar lahan pertanian masyarakat tidak lagi terendam banjir.

“Agar ke depannya potensi gagal panen akibat terendam banjir tersebut minim. Setidaknya langkah yang dilakukan bisa mengurangi dampak masyarakat petani dari kerugian,” ujarnya.

Dia menyebut persoalan tersebut justru sangat merugikan para petani, bagian dalam melakukan aktivitas pertanian, atau pengaruhnya para perekonomian masyarakat.

“Petani juga kebingungan, karena kalau banjir masyarakat tidak bisa melakukan aktivitas pertanian. Dan hal itu juga otomatis berpengaruh pada perekonomian masyarakat,” katanya.

Menurut dia, sektor pertanian menjadi salah satu skala prioritas pembangunan.

Untuk itu, setiap kendala yang didapat harus dibenahi secara bertahap, sehingga para petani di Kota Keris ini bisa sejahtera.

“Saya sarankan dinas terkait harus menganalisa terlebih dahulu persoalannya. Hal tersebut bisa kita lihat misalnya dari segi jaringan irigasinya apakah sudah maksimal atau belum. Kalau tidak maksimal maka yang perlu diperbaiki salurannya supaya bisa lancar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *