Krisis Air Dunia, Akankah World Water Forum ke 10 Temukan Solusinya

Penulis: Favel SovotkaEditor: Redaksi

Labumi.id, World Water Forum (WWF) ke-10 akan digelar di Bali pada 18-25 Mei 2024 mendatang. Forum internasional ini tentu saja akan mengungkap terjadinya krisis air global yang semakin mendekati titik kritis.

Tingkat kekritisan dalam banyak riset terjadi akibat meningkatnya pertumbuhan umat manusia, terjadinya urbanisasi, maupun krisis iklim sehingga berakibat  kepada ancaman keberlanjutan kehidupan manusia. Fakta itulah yang akan menjadi PR serius banyak negara, khususnya para negara yang jadi peserta WWF.

Para peserta WWF ini diharapkan akan mengurai silang sengkarut masalah krisis air dan menemukan solusi yang tepat. Sebab, krisis air global dalam paparan banyak studi dan riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah oleh para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, menyoroti beberapa ancaman utama yang akan dihadapi setiap negara karena pasokan air dunia yang kritis ini.

Menurut penelitian ilmuwan tersebut, salah satu masalah yang paling meresahkan adalah penurunan kualitas air, terutama disebabkan oleh polusi industri dan domestik. Hal ini tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga keberlangsungan ekosistem air.

Selain itu, penelitian ini menyoroti dampak perubahan iklim yang semakin memperburuk ketidakseimbangan dalam siklus air global. Peningkatan suhu, pola hujan yang tidak teratur, dan pencairan es yang cepat telah menyebabkan masalah serius seperti kekeringan dan banjir yang semakin parah di berbagai belahan dunia.

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini memperingatkan bahwa tindakan segera diperlukan untuk mencegah krisis air yang lebih parah di masa depan. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam mengembangkan solusi yang holistik dan berkelanjutan untuk masalah ini.

Organisasi lingkungan dan pemerintah di seluruh dunia telah dipanggil untuk meningkatkan upaya mereka dalam pelestarian sumber daya air dan mengurangi jejak karbon mereka. Sementara itu, masyarakat juga diimbau untuk mengadopsi perilaku yang lebih berkelanjutan dalam penggunaan air dan memperhatikan dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan.

Krisis air global bukanlah masalah yang bisa diabaikan lagi. Dengan kesadaran dan aksi yang tepat, mungkin masih ada harapan untuk memperbaiki keadaan sebelum terlambat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *