Membunuh Idealisme


  • Bagikan
Gambar Berlisensi Creative Commons

Kita sering kali memperbincangkan mengenai idealisme, termasuk juga mengaku idealis, sambil lalu menyebut orang lain yang kita kenal tidak lagi idealis. Tentu hal tersebut bukan merupakan hal yang ideal, dan tidak menunjukkan idealisme. Memang banyak hal di sekitar kita yang tidak ideal, meski harapan kita selalu terjadi hal yang ideal. Namun yang terjadi justeru sebaliknya, hal yang tidak ideal. Semakin kita berpikir idealis, maka semakin tidak kita temukan hal yang ideal. Realitas yang terjadi malah semakin jauh dari idealis. Semakin mendekat kita terhadap hal yang ideal, maka semakin jauh idealisme tersebut. Meski begitu, kita tetap saja berupaya untuk menemukan hal yang ideal, dengan idealisme kita.

Pengertian idealisme secara bahasa dapat ditemukan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Idealisme memiliki beberapa pengertian, yaitu “pemikiran yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami.” Selain itu idealisme juga bermakna “hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna.” Idealisme juga diartikan sebagai “aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.” Bisa jadi pengertian dan makna yang telah dikemukakan tersebut bukan merupakan hal yang ideal, namun setidaknya dapat memberi gambaran, bahwa idealisme merupakan hal yang tidak ideal atau disebut sebagai “tidak sesuai dengan kenyataan.”

Beberapa ahli mencoba untuk menghubungkan idealisme dengan filsafat yang berkaitan pikiran Plato yang mengungkapkan pikirannya berkaitan dengan negara utama. Namun bila ditelisik Plato tidak secara khusus menegaskan mengenai idealisme, ia hanya menyebut negara utama. Hal yang sama juga ditemukan oleh Al-Farabi mengenai negara utama (al-madinah al-fadilah). Al-Farabi menyebut negara utama adalah negara yang dipimpin oleh filosof dan warganya bahagia. Namun hal tersebut belum tentu ideal, karena hingga kini negara yang dipimpin filosof yang warganya bahagia belum pernah mewujud. John Stuart Mill juga mengungkap kebahagiaan lewat filsafat utilitarianismenya. Namun tidak menyinggung mengenal hal ideal.

Dalam sejarah, salah satu orang yang dianggap sebagai idealis adalah Hegel. Dengan pemikirannya yang susah untuk dimengerti, Hegel menyebut bahwa kenyataan bukan yang bersifat benda materi, melainkan jiwa. Padahal bila hanya ada jiwa, tanpa materi maka tidak menjadi ideal. Tentu saja jiwa tanpa materi tidak pernah membawa idealisme. Yang ada hanyalah potongan dari idealisme itu, dengan kata lain tidak ideal. Namun Hegel tetap menolak materi sebagai hal ideal. Sebab menurut Hegel jiwa adalah idea yang mutlak atau absolut. Sehingga sulit pula menemukan apa yang disebut dengan idealisme pada gagasan dan pikiran Hegel. Dari sini pula, kita tidak menemukan idelisme, hingga pada orang yang menjadi pelopor pemikiran idealisme sekalipun, seperti Hegel. Setelah Hegel, semakin banyak orang yang berbicara mengenai idealisme. Namun tetap saja idealisme tidak ditemukan.

Pada akhirnya idealisme memang tidak pernah kita temukan, dan tentu saja tidak akan pernah ditemukan. Meski tidak pernah ditemukan, idealisme tentu harus dibunuh, sebagai suatu cara untuk mendapatkan idealisme itu sendiri. Manusia modern harus membunuh idealisme yang dicari meski tidak pernah ditemukan. Sebagai satu cara untuk menemukan idelisme sebagai manusia. Lalu apakah kita harus berhenti berpikir idealis? Tentu saja jawabannya, tidak. Kita harus tetap terus dan senantiasa berpikir idealis, sebagai salah cara dan upaya untuk memelihara idealisme, kendati idealisme tidak pernah ditemukan.

Jika idealisme telah ditemukan oleh manusia, maka manusia tidak akan menjadi ideal, sebab yang ideal hanya Tuhan. Saat manusia menjadi ideal maka muncul sikap merasa sempurna di dalam dirinya. Merasa sempurna akan melahirkan sikap superior dan sombong. Hal tersebut tidak ideal, karena kesombongan adalah milik dan kuasa Tuhan. Maka menjadi manusia setengah Tuhan (homo deus) sebagaimana yang ditulis oleh Yuval Noah Harari juga tidak ideal. Untuk menemukan idealisme, manusia memang perlu untuk tidak menemukan idealisme itu sendiri, dengan kata lain membunuh idealisme itu sebelum ditemukan sekalipun.

 

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Wiraraja Madura

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *