Ning, Saya dan Margonda

Sudah setahun belakangan ini, saya pergi ke jendela. Selalu di jam yang sama. Mengintip yang di luar, bagai ada yang memanggil dari kejauhan. Saya tak melihat apapun di sana, hanya bayang-bayang yang diam seperti dicengkram satu kekuatan adikodrati yang tak saya pahami. Ketika tangan kecil saya memegang daun jendela, saya seperti masuk ke dalam dunia maha gaib.

Saya rasakan seisi kampung mulai terlihat sepi, mentari baru saja menenggelamkan cahaya siang. Jubah malam turun di antara lampu-lampu jalanan menyembunyikan pohon-pohon tua di sana, menyembunyikan rumahmu dan rumah saya. Ini benar-benar kasunyatan, bisik batin saya.

Ketika gerombolan kunang-kunang datang bagaikan mata-mata setan, sunyi terasa semakin lindap. Semua terasa asing, ini dimana pikir saya. Para tetangga yang menetap cukup lama di kampung Margonda, jam-jam segini, adalah waktu yang paling wengit. Kentongan di pukul, sapi-sapi dibangunkan, lenguh sapi dan kokok ayam berlomba dengan lonceng gereja di sudut desa yang memekakkan telinga.

Saya tak pernah bertanya, siapa yang membuat kampung Margonda jadi lengang begini. Apakah lengang bagian dari orang Margonda bahagia. Entahlah. Warga kampung seperti di pasung di pintu-pintu rumahnya. Sudah lama kami mendengar cerita dari seseorang yang tak diketahui wujudnya bahwa mereka telah datang melucuti baju setiap penduduk lokal sampai bugil. Benar-benar memalukan. Semua orang tentu membatin dengan kebingungannya yang diciptakannya sendiri. Apa maksudnya, pasti mereka datang dengan tujuan tertentu, pasti mereka telah menyumbat mulut para tetua kampung dengan roti.

***

Di ujung sudut jalan berliku itu tempat anjing-anjing kudisan mengais makanan, katanya seorang kurir dari kota menempeli rumah-rumah warga dengan stiker besar. Warnanya merah, ada gambar muka menyerupai tikus di dalamnya dan ada tulisan yang tak bisa dibaca. Orang-orang sudah curiga, itu rajah setan yang disamar-samarkan.

Kenapa tak dipretili saja, kalau stiker itu membuat warga gusar dan jadi gaduh. Mereka bilang pada saya tak usah percaya siapa pun. Makanya, saat orang-orang bersuara, entah, begitu tak jelas suara apa dan siapa mereka? Apa yang disuarakan, pesan manusia atau iblis, mahkluk hidup atau jadi-jadian. Warga tetap terbengong memandangi dirinya sendiri, seolah benar-benar memandangi ketololannya yang sempurna.

“Cemas ini keterlaluan,”katanya.

“Siapa yang menebar ketakutan,”kata yang lain.

Mereka telah panik, ini tak akan kunjung berhenti dan semakin berutal.

“Tutup semua pintu, tak usah buka siapa pun yang datang.”

“Akal sehat ini kemana. Hei, pemuka agama mana?”

“Tak perlu mengeluh, lebih baik makan minum sepuasnya. Harus dipaksa-paksa meski tak berselera. Mau bagaimana lagi?”.

Mereka telah bercerita lagi tentang suatu dunia yang tanpa penyakit. Seratus tahun sesudah kematian. Para penghuninya, konon telah lama hidup dengan nilai-nilai besar. Mereka tak memakai kondom ketika bercinta, untuk mengatur angka kelahiran. Mereka tak perlu sikat gigi untuk berciuman, dan membuang deodoran untuk berangkulanan.

Itu hanya keluh kesah, seorang wanita tua sebelum meregang nyawanya di atas amben. Bukan, ah, katanya. Dia sudah berkisah apapun, yang didengarnya sendiri dari pemintal kegelapan, rambutnya putih dan jubahnya bagaikan rabi. Ah, dia yang ngomong bahwa wabah-wabah itu sebetulnya bukan kutukan, tapi diciptakan agar warga kampung Margonda berhenti bercinta dan punya anak. Dia juga yang berkisah tentang dunia yang tak lagi tertanggungkan karena sesaknya.

Hidup hanya sekali, tak usah bebani dengan tai, katanya. Sudahlah, tidak ada wabah, hidup orang di kampung Margonda ini sudah cukup baik, mereka orang-orang berkecukupan. Maka, wabah apapun yang datang, tak akan membuat hidup mereka tambah susah.

Saya tak bisa berbuat apa-apa, saya tegaskan itu kepadanya. Sudah setahun belakangan ini saya pergi ke jendela, di waktu dan tempat yang sama. Ketika gelap mulai datang bersama jubah malam yang menikam.

Saya hanya ingin katakan kepadamu, saat itu saya tak kuasa menahan keluhnya. Setiap saat ada kesempatan, ia datang kepada saya mengadukan kandungannya yang mengkhawatirkan. Ia takut wabah itu menyerang janinnya, dan merasa menyesal mengapa dia hamil. Ia gusar sejak tak bertegur sapa dengan suaminya, padahal itu sudah berbulan-bulan terjadi sebelum pemakaian kondom masuk dalam protokol wajib kesehatan.

Saya pura-pura bodoh, karena itu yang bisa saya lakukan.

“Siapa yang dicemaskan, kenapa? Lo, koq, ada apa, sih?” saya berkata begitu.

“Ah… Wabah ini, “ kata dia sambil membuang muka.

“Sungguh keterlaluan, memaksa semua penghuni kampung Margonda jadi kelewat batas. Memaksa diri bertahan di rumahnya masing-masing untuk jadi binatang. Bercinta, bercinta.”

Dia mulai menangis. Lama sekali. Itu saat penting yang membuat saya jadi iba kepadanya.

“Sabarlah, Ning. Ada jalan, mereka sudah menemukan obatnya,”saya menghibur.

Dia justru berteriak, seperti kesetanan.

“Tutup pintu rapat-rapat, jangan kemana-mana, dan berdiam diri di rumah, physical distancing itu perintahnya, dalam sedetik, ribuan jiwa terkelupas nafasnya. Saya rasa ini teguran Tuhan.”

Ning wanita solehah, sebelum lelakinya datang. Ning seorang biduan. Saya dan warga di sini, di kampung Margonda suka sekali dengan suara Ning yang merdu dan indah.  Suka sekali saya ketika dia berkata, meski sekecap saat ngomong. Ketika dia diundang untuk mengisi nyanyian dihajatan kampung, orang-orang di luar kampung Margonda datang untuk mendengar lagu yang dibawakan Ning.

Mereka dan saya, terhipnotis karena suara Ning.

Pernah ketika suatu waktu, tak ada jamaah yang melakukan misa di gereja. Ning datang memegang tuah, sambil membunyikan lonceng, berdiri di atas pagar dan mengutip ayat-ayat alkitab. Sedetik itu, gereja satu-satunya di kampung Margonda penuh lautan manusia. Mereka tak mau pulang sebelum Ning menyanyikan sepotong lagu.

Ning tak membawakan lagu yang biasa dinyanyikannya pada pesta hajatan, dia menyanyikan ayat-ayat alkitab. Saya dan orang-orang di kampung Margonda tersungkur dan menangis. Kami semua meraih tubuh Ning, beberapa saat berada dalam damai seolah berada dalam dekapan bunda Maria.

Ning sudah berlalu, itulah kenangan terakhirnya bersama orang-orang Margonda, ketika kurir itu  menemukan tubuhnya telah jadi bagian serpih kecil, dicabik-cabik anjing kudisan di ujung gang itu. Isi perutnya terburai, tapi kedua tangannya erat mencengkram stiker warna merah dengan muka tikus itu. ***

* Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, Semester V di STKIP PGRI Sumenep 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *