N a s i b  P a k  A b u


  • Bagikan

Meski usianya sudah berat ke tanah, Pak Abu tak pernah susut menyusun batu impiannya. Meluluskan Mardi—anak semata wayang—menjadi sarjana adalah permata angan-angannya sebelum nafasnya embus ditarik ajal. Pak Abu paham betul uang banyaklah jembatan kokoh meluluskan Mardi menjadi sarjana. Namun, sungguh ia masih yakin, cita-citanya akan makbul dengan harapan yang terus membumbung. Lantas, uang dari mana membiayai kuliah Mardi sampai selesai? Ah, perkara uang biarlah waktu nanti yang menjawab. Bukankah dulu saat berumrah dengan Mirah, istrinya, ia juga tak punya uang?

Sahih sekali. Pak Abu memang tak pernah mengira jika sopir pribadi sepertinya mampu umrah ke tanah suci bersama istrinya sekaligus. Adalah Bapak Arman Destroy, bos Pak Abu yang dulu mengongkosi. Semua tak lain karena buah kesetiaan Pak Abu—selama 30 tahun—menemani ke mana pun bosnya itu pergi.

Sebenarnya bukan hanya umrah yang Pak Abu terima dari jerih kesetiaannya. Sewaktu ia pensiun, sebuah mobil yang dulu biasa dipakainya untuk mengantar Bapak Arman di awal-awal merintis bisnis hingga sukses menggurita di antero nusantara sudah pula menjadi miliknya.

Bapak Arman sesungguhnya tidak sampai hati memensiunkan Pak Abu. Meskipun secara usia ia memang sudah layak pensiun. Tetapi, setahun belakangan sebelum Pak Abu pensiun, ia acapkali mempertaruhkan nyawa saat sedang mengendarai mobil bosnya. Bahkan bukan hanya nyaris bertabrakan, sampai bertabrakan pun sudah pernah terjadi. Nasib baik tak ada korban jiwa. Baik yang menabrak atau yang ditabrak. Tak ingin Pak Abu celaka, Bapak Arman pun menuntaskan tugas Pak Abu.

Tak ingin anak buahnya mengalami kesusahan setelah pensiun, Bapak Arman menghadiahkan mobil kijang kapsul kesayangannya kepada Pak Abu selain sejumlah uang pensiun tentunya.

Namun beberapa bulan setelah  pensiun, mobil pemberian Bapak Arman dijual Pak Abu. Alasannya, selain belum membutuhkan mobil untuk keperluannya sehari-hari, ia belakangan juga takut membawa mobil pasca pensiun. Lagi pula biaya perawatannya juga tak sedikit. Ketimbang tekor untuk biaya perawatan mending mobilnya dijual dan uangnya ditabung untuk bekal kuliah Mardi. Sementara uang pensiun pemberian Bapak Arman bisa ia gunakan untuk modal usaha Mirah berjualan nasi uduk.

Sejak pensiun, Pak Abu hanya bergantung dari usaha jualan nasi uduk istrinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia sungguh mengerti, tak mungkin dapat mencari kerja lagi setelah pensiun. Betul, siapa juga yang mau menggunakan tenaga laki-laki usia 68 tahun. Beruntung Mirah tak setua Pak Abu, jadi masih kuat berdagang nasi uduk.

Akan tetapi, tak lama setelah mobil dijual, Badrun adik ipar Pak Abu malah buat petaka. Sepulang dari pasar mengantarkan kakaknya, yang tak lain adalah istri Pak Abu sendiri, Badrun menabrak seorang siswa SD yang sedang menyeberang. Tak tanggung-tanggung, siswa itu harus dioperasi karena kakinya patah tebu. Ditambah lagi biaya perawatan luka-luka Badrun dan Mirah yang tak sedikit menguras saldo tabungan Pak Abu. Nyaris uang hasil penjualan mobil kandas saat badai cobaan hidup harus ia lewati.

¤ ¤ ¤

Waktu pendaftaran mahasiswa baru tinggal beberapa minggu lagi. Mardi sudah ancang-ancang ingin kuliah di jurusan komunikasi. Ia memang sudah lama bercita-cita menjadi jurnalis. Menurutnya, kerja jurnalis itu keren. Betapa tidak, jurnalis di mata Mardi adalah corong rakyat dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan. Dan ia ingin sekali menjadi corong bagi orang-orang yang tertindas dan tak mendapatkan keadilan.

“Pak, apakah uang pendaftaran kuliah Mardi sudah ada?” selidik Mardi.

Pak Abu terdiam. Dikaisnya janggut lebatnya sembari mencari jawaban. Masih ada sisa sekian juta, bisik batinnya memantul ke telinganya. Tapi apa cukup untuk biaya mendaftar dan tetek bengek lainnya? Bukankah saat ini semua serba mahal? Tak ingin melihat Mardi kecewa, ia pun buru-buru menjawab.

“Sudah. Dua hari lagi uangnya bapak berikan,” jawab Pak Abu anteng. Mendengar jawaban bapaknya, Mardi pun beringsut ke kamar.

Pak Abu mengais kembali janggutnya yang lebat dengan jemarinya yang mulai terlihat berkerut-kerut—seperti sedang melacak jawaban yang tercecer entah di mana. Namun, ia tak juga mampu menemukan peta keluar dari kebuntuan pikirannya. Hampir meledak rasanya batok kepala Pak Abu memikirkan biaya kuliah Mardi. Terbayang uang penjualan mobil tempo hari yang lumayan berdaging. Ia pun berandai-andai sekiranya tak terjadi kecelakaan pasti saat ini tak akan sepening begini.

Dalam keputusasaannya, melintas wajah Bapak Arman Destroy, bosnya yang baik budi dan sukamenolong anak buah. Sepertinya Bapak Arman peta jalan keluar dari sandera kebuntuan yang menderanya. Apalagi sewaktu ia pamit pensiun, Bapak Arman berpesan untuk tidak sungkan datang kepadanya jika ia membutuhkan bantuan dan pertolongan.

Mungkin memang inilah saatnya meminta bantuan beliau, pikir Pak Abu. Dengan harapan yang masih membumbung, ia pun memberanikan diri menelepon mantan majikannya itu.

“Halo.”

Pak Abu kaget, sebab tak lama setelah telepon tersambung, ia langsung mendapat jawaban.

“Ya, halo, Bapak Arman. Saya Abu sopir bapak dulu,” Pak Abu sedikit terbata-bata.

“Saya tahu, Pak. Nomor Pak Abu masih saya simpan,” balas Bapak Arman sopan.

“Syukurlah bapak masih menyimpan nomor saya,” Pak Abu memetik udara lalu lanjut bercerita. “Begini Bapak Arman, anak saya Mardi beberapa minggu lagi mau mendaftar kuliah. Namun saya tak punya cukup uang. Saya berniat minta bantuan Bapak Arman jika bapak tak keberatan,” berat suara Pak Abu terdengar.

“Oh, baiklah. Nanti saya minta sekretaris saya mentransfer ke rekening Pak Abu. Sudah Pak Abu jangan khawatir, Mardi saya pastikan akan kuliah!” Bapak Arman sepertinya paham dan tak ingin Pak Abu terlalu lama dalam kekalutan.

“Terima kasih. Semoga bapak dan keluarga selalu diberikan sehat dan kesuksesan,” doa Pak Abu tulus.

Keesokan hari, selepas duha sebelum masuk waktu zuhur Pak Abu bergegas pergi ke bank memastikan uang transferan Bapak Arman sudah mendarat di tabungannya. Semalam selepas isya, sekretaris Bapak Arman mengabarkan jika uang yang dibutuhkan Pak Abu sudah ditransfer.

Betapa berbunga-bunga hati Pak Abu tatkala ia melihat saldo tabungannya berubah gemuk. Uang yang masuk ke saldo tabungannya dua kali lipat dari harga mobil kijang kapsul yang ia jual. Dengan uang sebanyak itu, tentu saja sangat cukup membiayai kuliah Mardi sampai selesai. Bahkan kalau pun ia mau pergi umrah sekali lagi, uang transferan Bapak Arman juga masih cukup.

Sepanjang jalan pulang ke rumah, Pak Abu tak berhenti mengucapkan syukur seraya mendoakan mantan bosnya itu di dalam hati. Sungguh beruntung pikirnya memiliki mantan bos seperti Bapak Arman, sebab beliau bukan hanya baik saat ia masih bekerja. Tetapi setelah pensiun pun beliau masih tetap baik dan peduli pada mantan anak buahnya.

Akan tetapi, setiba di rumah, wajah Pak Abu mendadak keruh. Apa hal? Bukankah barusan perkara yang belakangan ini memusingkan kepalanya sudah berhasil ia usir? Apalagi kalau bukan karena aduan Mirah tentang berita yang baru saja dia tonton di televisi. Berita apakah yang sampai membuat wajah Pak Abu keruh?

Lama Pak Abu terpaku. Terbayang wajah Mardi anaknya yang ia janjikan kemarin. “Apa betul berita itu, Bu? Tidak salah lihatkan?” selidik Pak Abu.

“Bapak lihat saja nanti. Pasti ada lagi beritanya. Soalnya ada menteri juga, Pak,” balas Mirah meyakinkan suaminya.

Tak lama berselang, televisi yang menyala kembali memberitakan peristiwa tertangkap tangannya seorang menteri dengan seorang pengusaha besar di sebuah lobi hotel mewah. Pak Abu terpukul. Pengusaha yang diberitakan itu ternyata adalah orang yang dulu selalu ia antar ke mana pergi.

Pikiran Pak Abu semakin balau, liar melompat ke berbagai kemungkinan. Salah satunya soal uang transferan Bapak Arman. Ia khawatir jika uang yang sudah menjadi miliknya itu akan dipersoalkan dikemudian hari. Bukankah kalau seseorang tertangkap dengan tuduhan korupsi semua transaksi keuangannya akan diselidiki? Bukan hanya itu, ia pun mungkin saja terseret-seret dalam drama korupsi Bapak Arman. Lalu, bagaimana nasib kuliah Mardi?

Lama sepasang suami istri itu termenung di depan televisi. Terbayang mobil kijang kapsul pemberian Bapak Arman, terbayang kecelakaan yang menimpa Badrun dan Mirah. Apakah semua peristiwa itu adalah sebuah pertanda? Benar-benar hanyut mereka dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Sehingga tatkala Badrun dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah menjinjing sebongkah kabar, mereka pun tak menyadarinya.

“Gawat! Gawat! Mardi…menabrak truk!”

Sontak sepasang suami istri  itu tergagap dari lamunannya. Seketika mereka seperti orang linglung sebelum akhirnya semua yang mereka lihat berubah menjadi hitam. Serentak mereka roboh di kaki Badrun.

Jakarta, 2020

 

ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU Timur dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada yang ditolak redaksi. Buku kumpulan cerpennya “Ha Ha Hi Hi” akan segera terbit.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *