Berharap Sumenep Lebih Baik, Aziz Ciptakan Sejarah di Tanggal Cantik

Penulis: Khairul AminEditor: Redaksi
labumi

Labumi.id, Aziz Salim Syabibi, politisi partai NasDem Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, gelar forum bertajuk “Sumenep Bangkit” dengan Warga kepulauan, tokoh kyai dan masyarakat setempat. Bertempat di JL. Raung Sumenep, Ahad 02-02-2020.

Aziz memang dengan sengaja melaksanakan acara di hari Ahad, sebab di tanggal cantik ini ia menciptakan sejarah untuk Sumenep.

“Bagi saya tanggal, bulan dan Hari ini sangatlah cantik, kita buat sejarah baru saat ini,” ungkapnya.

Aziz menyampaikan bahwa acara ini tidak lain  membahas tentang problem yang dialami oleh masyarakat, dengan harapan dari forum ini bisa menciptakan solusi untuk Sumenep kedepan.

Forum dengan tajuk “Sumenep Bangkit” ini tentu tidak hanya sekedar nama saja, namun bagi Aziz tersimpan makna yang tersirat di dalamnya. Dari forum ini, sebut Aziz ingin memperbaiki Sumenep dari ketertinggalan, keterpurukan dan semua aspek. Termasuk menyangkut hajat dan kepentingan masyarakat Sumenep.

Membahas persoalan ini, menurut Aziz merupakan sesuatu yang sangat urgent, maka dari itu ia sengaja mengundang stakeholder- stakeholder untuk dimintai keterangan, pendapat dan masukannya agar Sumenep kedepan bisa lebih baik dan berkembang.

Sebab kata Aziz, masyarakat lebih mampu menilai apa kekurangan dan kelemahan sistem yang dijalankan pemerintah, sebab masyarakat secara langsung merasakan dampaknya.

Tanggapan audien bervariasi dalam menyikapi persoalan Sumenep. Beberapa dari mereka mengatakan jika ingin Sumenep bangkit sebagaimana tema dalam forum ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset dan cara berfikir dalam melakukan sesuatu.

Dalam hal itu, peenentu sistem dituntut benar-benar ikhlas dalam mengabdikan diri pada negara untuk kepentingan masyarakat, bukan hanya kepentingan kelompok, lebih-lebih kepentingan pribadi.

Ada pula yang menyinggung persoalan sistem pendidikan. Menurut sebagian mereka, sistem pendidikan yang diterapkan di Sumenep tidak merata. Hal ini bisa dilihat dan dibuktikan antara sekolah di desa dan di kota. Di desa cenderung di anak tirikan, misal dari segi fasilitas dan perhatian pemerintah setempat.

“Pemerataan pendidikan itu penting, apalagi mereka adalah generasi penerus bangsa, tentu kita harus memberikan perhatian lebih,” ungkap salah satu dari mereka yang hadir.

Tidak berhenti disitu, mereka juga menyoroti persoalan potensi alam di Sumenep. Bagi mereka, jika diibataratkan seperti pohon, Sumenep adalah pohon besar, indah dan sangat rindang. Hanya saja pohonnya tak berbuah, jadi tidak bisa dinikmati sebagai hidangan/makan. Lebih tepatnya sistem pemerintahan belum berjalan maksimal sehingga tidak ada hasil yang relevan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *